RESUME
Oleh:
NURUL
AZIZAH
BUKU
I
Judul Buku :
LEANING TO TEACH
Belajar untuk Mengajar
Penulis :
Richard I. Arends
Penerbit : PUSTAKA PELAJAR
Tahun : Mei 2008
Jumlah Halaman : 1-371
ISBN : 978-602-8055-64-2
Edisi : Ketujuh/ Jilid I
BUKU
II
Judul Buku : LEANING TO TEACH
Belajar untuk Mengajar
Penulis : Richard I. Arends
Penerbit : PUSTAKA PELAJAR
Tahun : Juli 2008
Jumlah Halaman : 1-238
ISBN : 978-602-8055-80-2
Edisi : Ketujuh/ Jilid II
BAB
1
PENDAHULUAN
Belajar menjadi guru adalah sebuah
perjalanan panjang dan kompleks, yang penuh kegembiraan dan tantangan.
Perjalanan itu dimulai dengan pengalaman yang dimiliki bersama orangtua dan
kakak atau adik, dilanjutkan dengan observasi dari guru ke guru selama enam
belas sampai dua puluh tahun di sekolah dan di perguruan tinggi, dan secara
formal mencapai puncaknya pada pelatihan profesional, tetapi setelah itu masih
terus berlanjut terus dalam bentuk pengalaman mengajar sepanjang hayat.
Buku edisi ketujuh Learning to
Teach ini memberikan pandangan yang komprehensif dan seimbang tentang
mengajar yang difokuskan pada berbagai model, strategi, dan taktik umum yang
berlaku pada pengajaran di semua bidang studi dan di semua tingkat pendidikan.
Meskipun mengajar didasarkan pada pengetahuan yang diambil dari penelitian
pendidikan, ia juga memiliki sisi terapan dan praktis yang penting. Isi di
dalam Learning to Teach diorganisasikan untuk membantu menjawab banyak permasalahan
sehari-hari yang dihadapi oleh guru.
BAB
II
SINOPSIS
(Resume
I)
BAGIAN
1
Belajar
dan Mengajar di Kelas Dewasa Ini
Bab 1: Dasar
Ilmiah Seni Mengajar
Mengajar
memiliki dasar ilmiah yang dapat menjadi pedoman bagi praktiknya yang
didasarkan pada penelitian dan bukti-bukti ilmiah. Peran guru yang kompleks
terbentuk oleh berbagai kekuatan historis dan kontemporer. Ekspektasi terhadap
guru telah mengalami berbagai perubahan. Di abad kedelapan belas dan kesembilan
belas, yang paling diutamakan adalah karakter moral guru, sedangkan saat ini
lebih memperhatikan kemampuan pedagogis guru.
Saat
ini, sepertiga siswa berasal dari latar belakang non-Eropa barat, banyak yang
masih belajar bahasa inggris, dan banyak diantara mereka yang miskin. Ketiga
faktor ini secara bersama-sama telah membentuk-ulang peran guru. Guru
diharapkan untuk bekerja di setting pendidikan multikultural yang
kompleks dan untuk memberikan pengalaman pendidikan yang baik kepada semua
anak. Guru-guru dewasa diharapkan membantu siswa untuk mengkontruksikan
pengetahuannya sendiri dan untuk terlibat aktif di dalam pembelajaran sendiri.
Guru semakin diharapkan untuk memiliki persiapan yang cukup jauh dan untuk
mendemostrasikan pengetahuan mereka tentang subjek yang diampunya maupun
tentang pedagogi.
Guru-guru
efektif memiliki kualitas untuk mengembangkan hubungan autentik dengan
siswa-siswanya, memahami dasar pengetahuan tentang belajar dan mengajar, dapat
melaksanakan sebuah repertoar pratik terbaik, memiliki sikap dan ketrampilan
yang dibutuhkan untuk refleksi dan menyelesaikan masalah, menganggap pelajaran
mengajar sebagai sebuah proses yang berlangsung seumur hidup.
Dasar
ilmiah untuk mengajar terutama dipelajari melalui pengkajian, penelitian dan
kearifan praktik yang diakumulasikan oleh proses mengajar. Dari pengetahuan
ilmiah, berbagai prinsip dan proposisi pengajaran tertentu dapat memberikan
informasi tentang praktik pengajaran terbaik. Tetapi, prinsip-prinsip yang
didasarkan pada penelitian tidak dapat ditranslasikan secara langsung menjadi
resep dan formula yang pasti, yang akan bekerja setiap saat. Hal ini disebabkan
karena mengajar bersifat situasional, dan karakteristik siswa, kelas, sekolah
dan masyarakat tertentu mempengaruhi prinsip apa yang bekerja dan tidak
bekerja.
Reportoar
mengacu pada sejumlah strategi dan proses yang disiapkan guru untuk
digunakan. Guru yang efektif mengembangkan sebuah metode dan ketrampilan agar
dapat melaksanakan berbagai aspek pekerjaannya. Pekerjaan seorang guru dapat dikonseptualisasikan
diseputar tiga fungsi, yaitu kepemimpinan, intruksional (pengajaran), dan
organisasional.
a.
Aspek-aspek kepemimpinan mengajar mengacu pada peran-peran kepemimpinan yang diharapkan untuk dimainkan
guru di kelas mereka, misalnya memberikan motivasi, merencanakan,
dan mengalokasikan sumber-sumber daya yang langka.
b.
Aspek-aspek intruksional mengajar mengacu pada metode dan proses yang digunakan guru selama mereka memberikan pengajaran kepada siswa-siswanya dari hari ke hari.
c.
Aspek-aspek organisasional mengajar mengacu pada pekerjaan guru dalam komunitas sekolahnya, termasuk bekerja
bersama rekan-rekan sejawat, orang tua siswa, dan personel kepemimpinan sekolah.
Praktik
yang efektif termasuk kemampuan-kemampuan untuk mendekati berbagai situasi kelas
secara refleksi dan berorientasi problem-solving (mengatasi masalah).
Belajar
mengajar adalah sebuah proses perkembangan dan berlangsung seumur hidup. Guru
melalui berbagai tahapan yang dapat diprediksi. Pada awalnya mereka memiliki concern
tentang bagaimana mereka bisa bertahan, kemudian tentang situasi
mengajarnya, dan terakhir tentang berbagai kebutuhan sosial dan akademik
siswa-siswanya.
Orang
tua dan guru sering mempengaruhi keputusan seseorang untuk memasuki dunia
mengajar. Akan tetapi, ingatan tentang guru favorit tidak boleh menjadi model
terbaik untuk mengembangkan gaya mengajar seseorang, karena guru-guru tersebut
barang kali tidak seefektif kelihatannya. Belajar mengajar adalah sebuah proses
yang kompleks, dan informasi yang berguna bagi guru-guru berpengalaman mungkin
tidak memiliki nilai yang sama bagi guru-guru pemula.
Bab 2:
Pembelajaran Siswa di Kelas yang Beragam
Selama setengah abad yang lalu,
populasi siswa di sekolah-sekolah Amerika telah berubah secara dramatis.
Memahami keanekaragaman dan membantu setiap siswa belajar adalah tantangan
besar pengajaran abad kedua puluh satu. Sangat penting untuk menggunakan bahasa
yang tepat ketika mendiskusikan tentang keanekaragaman dan merujuk ke latar
belakang dan kemampuan siswa.
Banyak
penelitian dan concern pada keanekaragaman difokuskan pada topik-topik
seperti ekuitas, perlakuan diferensial, dan variasi dalam kemampuan belajar
siswa. Ekuitas mengacu pada penciptaan kondisi di sekolah yang tidak memihak
dan sama bagi semua orang. Secara historis, kondisi yang setara itu tidak ada.
Sebagian siswa diberi kesempatan yang terbatas karena ras, kelas sosial, atau
kemampuannya.
Perlakuan
diferensial mengacu pada perbedaan pengalaman pendidikan kyang dialami
mayoritas ras, kelas, budaya, dan gender, dan yang dialami minoritas.
Ekspektasi guru mempengaruhi hubungan dengan siswa, apa yang mereka pelajari,
dan ekspektasi terhadap kemampuan mereka sendiri. Guru dapat belajar menyadari
dan meminimalkan biasnya sendiri tentang siswa dengan latar belakang yang
berbeda.
Siswa-siswa yang memiliki
disabilitas belajar memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi agar mereka
dapat berfungsi dengan baik di dalam dan di luar sekolah. Secara tradisional,
siswa-siswa ini menerima pendidikan dengan mutu yang lebih rendah. Upaya yang
saat ini dilakukan untuk mengarusutamakan dan menginklusikan siswa-siswa dengan
kebutuhan khusus dimaksudkan untuk memperbaiki situasinya. Inklusi adalah upaya
untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi siswa-siswa dengan kebutuhan
khusus, kelompok yang tradisional tersegregasi dan menerima kesempatan
pendidikan dengan mutu yang lebih rendah.
Public Law 94-192 menyatakan bahwa
siswa-siswa dengan disabilitas harus dididik di lingkungan yang paling tidak
restritik dan bahwa masing-masing harus memiliki individual educational plan
(IEP) (rencana pendidikan individual). Tanggung jawab guru untuk menangani
siswa-siswa dengan kebutuhan khusus termasuk membantu proses IEP dan
mengadaptasikan pengajaran dan aspek-aspek pengajaran lainnya agar seluruh
siswa dapat belajar.
Ada berbagai perspektif yang berbeda
untuk menangani siswa-siswa dengan disabilitas. Sebagian mengadvokasikan
pendekatan yang sangat terstruktur, sementara sebagian lainnya berpendapat
bahwa pengajaran seharusnya didasarkan pada minat siswa dan menekankan pada
pengatasa masalah dan berfikir kritis. Kombinasi kedua pendekatan ini
kemungkinan akan sangat efektif. Kurang ada konsensus tentang bagaimana cara
mengidentifikasi dan mendidik siswa yang memiliki gift dan bakat khusus.
Sebagian percaya bahwa member perhatian kepada siswa-siswa gifted merenggut
sumber daya yang lebih dibutuhkan oleh siswa-siswa lainnya.
Ciri-ciri siswa gifted dapat
termasuk fungsi kognitif yang luar biasa, proses berfikir yang fleksibel dan kreatif,
perbendaharaan kata yang kaya, dan talenta artistik yang tinggi. Strategi yang
efektif untuk menangani siswa-siswa gifted termasuk mendiferensiasikan
pengajaran, menciptakan lingkungan belajar yang kaya, menggunakan pengelompokan
(grouping) yang flesibel, memadatkan kurikulum dan pengajaran,
menggunakan cara belajar mandiri, dan membantu siswa-siswa gifted menetapkan
standar yang tinggi untuk dirinya sendiri.
Perspektif kontemporer menolak ide
tentang defisit kultural dan bepegang pada teori-teori perbedaan kultural dan
ketidaksinambungan kultural untuk menjelaskan kesulitan yang dialami siswa di
sekolah. Untuk menangani siswa-siswa di kelas yang beragam secara kultural dan
rasial dengan efektif, guru harus mengenali, memahami, dan menghargai berbagai
kelompok budaya, baik berdasarkan perbedaan ras, etnis, bahasa, gender, atau
perbedaan-perbedaan lainnya.
Menyadari
bias-bias sendiri dan mengembangkan pemahaman dan sensitivitas terhadap
berbagai budaya siswa adalah langkah pertama yang penting bagi pengajaran yang
efektif di kelas-kelas yang beragam secara kultural.
Guru-guru yang efektif dari
siswa-siswa yang berbeda secara rasial dan kultural tahu bagaimana cara
menciptakan kurikulum yang relevan secara kultural dan multikultural dan
bagaimana cara menggunakan pedagogi yang relevan secara kultural. Model-model
dan strategi-strategi spesifik yang ada untuk mencapai tujuan belajar yang
multikultural termasuk pengajaran langsung, cooperative learning, pengajaran
resiprokal, dan community problem solving.
BAGIAN
2
Aspek-Aspek
Kepemimpinan dalam Pengajaran
Bab 3:
Perencanaan Guru
Perencanaan
yang baik melibatkan kegiatan mengalokasikan penggunaan waktu, memilih metode
pengajaran yang tepat guna, menciptakan minat siswa, dan membangun lingkungan
belajar yang produktif. Merencanakan dan mengambil keputusan tentang pengajaran
adalah aspek-aspek terpenting pengajaran karena merupakan determin utama dari
apa yang diajarkan di sekolah dan bagaimana cara mengajarkannya.
Perspektif tradisional perencanaan
didasarkan pada model-model liniar-rasional yang ditandai oleh penetapan tujuan
dan pengambilan tindakan-tindakan tertentu untuk mencapai hasil yang
diinginkan. Bentuk ketiga perencanaan guru yang disebut mental planning, didasarkan
pada pemikiran reflektif sebelum mengorganisasikan rencana yang lebih formal
serta tindakan membayangkan dan latihan mental sebelum menyajikan pelajaran
tertentu.
Perencanaan
dapat meningkatkan motivasi siswa, membantu memfokuskan pembelajaran siswa, dan
mengurangi masalah manajemen kelas. Guru-guru yang berpengalaman lebih
memperhatikan tentang bagaimana membangun struktur sebelum membimbing berbagai
kegiatan kelas dan merencanakan sebelumnya berbagai adaptasi yang mungkin
dibutuhkan setelah pelajaran berjalan. Secara umum, guru-guru pemula lebih
banyak menggunakan perencanaan untuk pengajaran verbal dan lebih banyak
merespons interes siswa.
Perencanaan guru bersifat
multifaset, tetapi berhubungan dengan tiga fase pengajaran: sebelum pelajaran,
ketika keputusan tentang apa yang akan diajarkan, dan untuk berapa lama dibuat;
selama pengajaran, ketika keputusan tentang pertanyaan yang akan ditanyakan, wait
time, dan orientasi, dan; setelah pengajaran, ketika keputusan tentang
bagaimana cara mengevolusi kemajuan siswa dan apa tipe umpan-balik yang akan
diberikan dibuat.
Salah satu tugas perencanaan yang
paling kompleks adalah memilih isi kurikulum. Standar dan kerangka-kerja yang
dikembangkan oleh masyarakat profesional dan oleh komite kurikulum tingkat
negara bagian dan lokal membantu pembuatan keputusan tersebut. Sejumlah alat
perencanaan juga dapat membantu guru, termasuk pemetaan kurikulum.
Pemetaan kurikulum adalah alat
perencanaan yang memungkinkan sekelompok guru untuk menjadwalkan apa yang
mereka ajarkan di berbagai tingkat kelas dan di berbagai bidang isi. Tipe
perencanaan ini mengidentifikasi berbagai kesenjangan dan tumpang tindih.
Tujuan intruksional adalah pernyataan yang mendeskripsikan perubahan siswa yang
seharusnyaterjadi sebagai hasil pengajaran. Taksonomi adalah alat yang membantu
mengklasifikasikan dan menunjukkan hubungan di antara berbagai hal. Taksonomi
Bloom telah digunakan secara luas dibidang pendidikan untuk mengklasifikasikan
tujuan dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Melalui proses perencanaan, guru dapat membuat variasi waktu, materi, dan
kegiatan belajar agar dapat memenuhi kebutuhan setiap siswa di kelas.
Penggunaan waktu dan ruang dipengaruhi oleh tuntutan tugas pembelajaran.
Guru-guru yang efektif mengembangkan sikap fleksibilitas dan eksperimentasi
tentang fitur-fitur kehidupan di kelas.
Bab 4:
Komunitas Belajar dan Motivasi Siswa
Memotivasi
siswa dan memberikan kepemimpinan untuk komunitas belajar adalah fungsi
kepemimpinan yang kritis dalam pengajaran. Komunitas kelas adalah sistem sosial
dan ekologis yang di dalamnya termasuk dan mempengaruhi berbagai kebutuhan dan
motif individu, peran institusional, dan interaksi antara kebutuhan anggota dan
norma kelompok. Konsep motivasi manusia didefinisikan sebagai proses dalam diri
individu yang menggerakkan mereka untuk bertindak. Motivasi adalah yang membuat
individu “bergerak” ke arah kegiatan dan tugas tertentu.
Psikologi membedakandua tipe
motivasi: motivasi intrinsik, yang digerakkan secata internal, dan motivasi
eksternal, yang merupakan akibat faktor-faktor eksternal dan lingkungan. Teori
motivasi yang paling relevan dengan pendidikan adalah teori penguatan, teori
kebutuhan, teori kognitig, dan teori belajar sosial. Teori penguatan menekankan
pentingnya individu merespons kejadian lingkungan dan penguatan ekstrinsik.
Teori kognitif menekankan pentingnya cara orang berfikir dan berkeyakinan serta
atribusi yang mereka miliki tentang berbagai situasi kehidupan. Teori belajar
sosial mengatakan bahwa tindakan individu dipengaruhi oleh tujuan yang berharga
bagi mereka dan ekspektasi kesuksesannya.
Komunitas belajar yang produktif
ditandai oleh iklim yang siswanya merasa positif tentang dirinya sendiri dan
teman-teman sebayanya, kebutuhan individual mereka terpenuhi sehingga siswa
bertahan di dalam tugas-tugas akademiknya dan bekerja secara kooperatif dengan
guru, dan siswa memiliki ketrampilan interpersonal dan kelompok untuk memenuhi
tuntutan kehidupan kelas. Tiga fitur penting yang membantu memahami komunitas
kelas adalah properti kelas, proses kelas, dan struktur kelas.
Properti kelas adalah fitur-fitur
distingtif kelas yang membantu membentuk perilaku. Proses kelas menentukan
fitur-fitur interpersonal dan kelompok kelas. Struktur kelas adalah dasar-dasar
yang membentuk pelajaran dan perilaku tertentu selama pelajaran itu. Tiga
struktur penting kelas meliputi struktur tugas, tujuan, dan partisipasi.
Studi-studi
tentang kelas dan pengajaran menunjukkan bahwa motivasi dan pembelajaran siswa
dipengaruhi oleh proses dan struktur yang diciptakan guru di kelas tertentu.
Guru efektif menciptakan komunitas belajar yang produktif dengan memfokuskan
pada hal-hal yang dapat diubah, misalnya meningkatkan motivasi siswa dan mendorong
perkembangan kelompok.
Bab 5:
Manajemen Kelas
Manajemen
kelas bukanlah tujuan itu sendiri tetapi bagian dari peran kepemimpinan guru
secara keseluruhan. Aspek-aspek menajerial dan instruksional pengajaran sangat
erat berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan dengan jelas dalam
pengajaran riil. Sebuah dasar pengetahuan yang telah dikembangkan dengan baik
tentang menajemen kelas memberikan panduan bagi manajemen kelas yang sukses
maupun cara menangani siswa-siswa yang disruptif.
Pengelola yang efektif memiliki
prosedur-prosedur yang ditetapkan dengan baik, yang mengatur pembicaraan dan
gerakan siswa, membuat persyaratan-persyaratan tugas jelas bagi siswa, dan
menekankan pada penjelasan yang benar-benar jelas. Pengelola yang efektif
menetapkan peraturan dan prosedur yang jelas, mengajarkan aturan dan prosedur
ini kepada siswa, dan menorkestasikan kegiatan-kegiatan kelas secara cermat
selama periode-periode tidak stabil seperti awal dan akhir pelajaran dan
transisi. Pengelola yang efektif mengembangkan berbagai sistem untuk membuat
siswa bertanggung jawab atas hasil kerja akademisnya dan atas perilakunya di
kelas. Pengelola yang efektif memiliki ketrampilan intervensi untuk menangani
siswa yang disruptif dengan cepat, langsung, namun adil.
Pendekatan-pendekatan spesifik untuk
manajemen kelas, seperti asservative discipline, menekankan pentingnya
memperjelas ekspektasi dan konsisten dalam mengadministrasikan konsekuensi.
Bab 6: Asesmen
dan Evaluasi
Asesmen
dan evaluasi dapat didefinisikan sebagai fungsi-fungsi yang dilakukan oleh guru
untuk membuat keputusan yang bijaksana tentang pengajarannya maupun tentang
siswa. Porsi yang cukup besar dari waktu guru dihabiskan untuk proses asesmen
dan evaluasi. Para spesialis evaluasi membedakan antara evaluasi formatif dan
sumatif. Evaluasi formatif dikumpulkan sebelum atau selama pengajaran dan
digunakan untuk memberikan informasi kepada guru tentang pengetahuan yang
sebelumnya telah dimiliki siswa-siswanya dan untuk membuat judgment tentang
efektifitas pelajarannya. Informasi evaluasi sumatif dikumpulkan setelah
pengajaran dan digunakan untuk merangkum bagaimana kinerja siswa dan untuk
menentukan nilai.
Para
spesialis pengukuran menggunakan dua istilah teknis untuk mendeskripsikan
kualitas informasi asesmen dan evaluasi: reliabilitas dan validitas.
Reliabilitas mengacu pada konsistensi internal sebuah tes, kemampuannya untuk
menghasilkan skor yang konsisten dari waktu ke waktu untuk individu atau
kelompok yang menjalani tes itu lebih dari satu kali, dan kemampuannya untuk
menghasilkan hasil-hasil yang sama bila dua bentuk yang berbeda dari tes itu
digunakan. Validitas mengacu pada kemampuan sebuah tes atau alat lain untuk
mengukur apa yang di klaimnya akan diukur.
Program
asesmen kelas oleh guru sendiri mencakup fitur-fitur, seperti: mengumpulkan
informasi yang dapat digunakan untuk mendiagnosis pengetahuan dan ketrampilan
siswa sebelumnya, memberikan umpan-balik korektif kepada siswa, dan membuat judgment
yang akurat tentang prestasi siswa. Prinsip-prinsip umum untuk kontruksi
tes adalah menyelaraskan soal-soal tes dengan tujuan instruksional, mencakup
semua tugas belajar, membuat tes itu valid dan reliabel, menginterprestasikan
hasil-hasil tes dengan hati-hati, dan menggunakan soal-soal tes yang tepat.
Blueprint
(cetak-biru) tes adalah alat yang digunakan untuk membantu guru
dalam menentukan berapa banyak ruang yang dialokasikan untuk beragam topik yang
dicakup dan untk mengukur berbagai tingkat proses kognitif. Tes buatan guru
dapat terdiri atas soal-soal benar-salah, menjodohkan, mengisi titik-titik,
pilihan ganda, dan esai. Untuk mengurangi bias, guru mestinya membuat
ekspektasi jawaban esai itu dimengerti dengan jelas oleh siswa, menulis
contoh-contoh jawaban sebelum tes, dan menggunakan berbagai teknik untuk
mengurangi efek ekspektansi.
BAGIAN
3
Model-Model
Pengajaran Interaktif yang Berpusat pada Guru
Bab 7:
Presentasi dan Penjelasan
Presentasi,
penjelasan, ceramah oleh guru menggunakan porsi waktu di kelas yang cukup besar
terutama karena kurikulum di sekolah di strukturisasikan di seputar berbagai bodies
of information yang diharapkan untuk dipelajari siswa. Tujuan intruksional
model presentasi terutama adalah untuk membantu siswa memperoleh,
mengasimilasi, dan menyimpan informasi. Aliran secara umum atau sintaksis
pelajaran presentasi terdiri atas empat fase utama: mempresentasikan tujuan dan
establishing set, mempresentasikan advance organizer, mempresentasikan
materi belajar, dan menggunakan berbagai proses untuk memantau pemahaman siswa
dan membantu memperluas dan memperkuat pemikiran siswa. Presentasi yang sukses
membutuhkan lingkungan belajar yang distrukturisasikan dengan cukup ketat, yang
memungkinkan guru untuk mempresentasikan dan menjelaskan informasi baru secara
efektif dan memungkinkan siswa untuk mendengar dan melihat.
Model pengajaran dengan presentasi
mendasarkan diri pada tiga arus pemikiran kontemporer: konsep-konsep tentang
bagaimana pengetahuan distrukturisasikan, ide-ide tentang cara membantu siswa
mendapatkan meaning verbal learning, dan konsep-konsep dari ilmu
kognitif yang menjelaskan bagaimana informasi diperoleh, diproses, dan
disimpan. Bodies of knowledge memiliki struktur-struktur logis dari mana
berbagai konsep dan ide kunci di ambil untuk presentasi guru.
Pengetahuan dapat dibagi menjadi
empat kategori utama: pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural,
pengetahuan konseptual, dan pengetahuan metakognitif.
1. Pengetahuan deklaratif adalah mengetahui
tentang sesuatu atau pengetahuan bahwa sesuatulah yang sebenarnya terjadi.
2.
Pengetahuan prosedural adalah mengetahui cara untukmelakukan
sesuatu.
3.
Pengetahuan konseptual adalah mengetahui hubungan di antara elemen-elemen dasar.
4.
Pengetahuan
metakognitif adalah kesadaran seseorang tentang pengetahuan dan
proses berfikirnya sendiri dan mengetahui kapan menggunakan pengetahuan tertentu.
Orang-orang mengambil informasi dan pengetahuan melalui indra dan
mentransformasikannya ke dalam ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Meaningful
verbal learning terjadi bila guru mempresentasikan ide-ide pemersatu utama
dengan cara menghubungkan ide-ide tersebut dengan pengetahuan yang sebelumnya
sudah dimiliki siswa.
Kejelasan
suatu presentasi bergantung pada penyampaian guru dan penguasaan guru secara
umum terhadap materi subyek yang dipresentasikan. Advance organizers berfungsi
sebagai kerangka pendukung intelektual (intellectual scaffolding) bahwa
pengetahuan baru dibangun di atasnya. Teknik-teknik spesifik yang digunakan
dalam mempresentasikan materi baru, termasuk explaining links,
rule-example-rule, dan transisi verbal.
Guru
dapat membantu siswa memperluas dan memperkuat pemikiran mereka tentang materi
baru melalui diskusi, tanya-jawab, dan dialog. Yang terpenting, pelajaran
presentasi membutuhkan aturan yang jelas tentang kapan siswa boleh berbicara;
prosedur umtuk memastikan jalannya pengajaran yang cepat lancar; dan metode
yang efektif untuk menangani perilaku off-task dan perilaku buruk siswa.
Bab 8:
Pengajaran Langsung
Efek
instruksional dari model pengajaran langsung adalah meningkatkan penguasaan
ketrampilan-ketrampilan sederhana maupun kompleks dan pengetahuan deklaratif
yang dapat ditetapkan dengan seksama dan diajarkan secara langkah demi langkah.
Model pengajaran langsung mengambil dukungan teoritisnya dari teori behavioral,
teori belajar sosial, dan penelitian tentang efektivitas guru. Model ini
memiliki bukti-bukti empiris yang kuat untuk penggunaannyasebagai cara untuk
menuntaskan tipe-tipe pembelajaran tertentu.
Aliaran secara umum atau sinteksis
pelajaran dengan model pengajaran langsung biasanya terdiri atas lima fase.
Lima fase model instruksional langsung adalah:
1)
Menetapkan tujuan dan establishing set,
2)
Mendemonstrasikan atau menjelaskan materi-materi yang
akan dipelajari,
3)
Memberikan praktik terbimbing,
4)
Memeriksa pemahaman siswa dan memberikan umpan-balik,
5)
Memberikan extended practice dan transfer.
Penggunaan praktik seharusnya dipandu oleh
beberapa prinsip: memberikan sejumlah latihan pendek dan bermakna; memberikan
latihan untuk meningkatkan overlearning; dan memanfaatkan dengan baik massed
practice dan distributed practice. Urusan manajemen kelas untuk
metode ini termasuk mengorganisasikan setting kelas agar bisa
mendapatkan efek maksimum; mempertahankan kecepatan, aliran, dan mementum
pembelajaran yang tepat; mempertahankan engagement, keterlibatan, dan
partisipasi; menangani perilaku buruk siswa dengan cepat dan tegas.
Bab 9:
Pengajaran Konsep
Konsep
adalah balok bangunan dasar tempat orang mengorganisasikan pikiran dan
komunikasi di sekitarnya. Belajar konsep dan berfikir logis adalah tujuan
kritis untuk hampir semua hal yang diajarkan di sekolah. Hal ini menjadi scaffolding
(perancah) penting untuk membangun pemahaman siswa tentang berbagai subjek
yang diajarkan di sekolah. Belajar konsep pada dasarnya adalah proses
meletakkan berbagai hal ke dalam berbagai golongan atau kategori.
Tujuan
instruksional pengajaran konsep terutama adalah untuk membantu siswa memperoleh
pemahaman konseptual tentang subjek-subjek yang sedang mereka pelajari untuk
memberikan fondasi untuk berfikir tingkat tinggi. Aliran umum atau sintaksis
sebuah pengajaran konsep terdiri atas empat fase utama: memberikan tujuan dan establishing
set, memberikan contoh dan bukan contoh, menguji pencapaian konsep, dan
mengalanalisis proses berpikir siswa. Pengajaran konsep membutuhkan lingkungan
yang struktur sedang.
Dasar teoritis dan empiris untuk
pengajaran konsep dan belajar konsep sangat ekstensif dan mencakup topik-topik
yang sangat beragam. Berbagai studi telah menunjukkan bagaimana umur dan
perkembangan intelektual mempengaruhi kesiapan untuk belajar konsep. Teori
perkembangan Piaget dan Bruner sangat penting bagi mengajar dan belajar konsep.
Atribut-atribut
kritis sebuah konsep membantu mendefinisikan dan membedakannya dari konsep-konsep
lain. Ada beragam konsep, termasuk konsep konjungtif, konsep disjungtif, dan
konsep hubungan. Siswa menangkap konsep-konsep secara umum terutama dengan
menerima penyajian contoh dan bukan contoh spesifik tentang konsep itu.
Tugas-tugas perencanaan untuk pengajaran konsep termasuk memilih konsep dan
memilih pendekatan yang paling tepat.
Ada beberapa macam pendekatan
pengajaran konsep. Dua pendekatan yang paling menonjol adalah direct
presentation dan concept attainment. Dalam presentasi langsung, guru
memberi label dan mendefinisikan konsep pada awal pelajaran, dan kemudian
menyuguhkan contoh-contoh terbaik melalui pemaparan. Sedangkan dalam pencapaian
konsep, guru menyuguhkan contoh dan bukan contoh dari konsep tertentu tetapi
tidak mendefinisikan dan memberi label pada konsep itu sampai akhir pelajaran.
Dalam pengajaran lansung, guru menyajikan definisinya terlebih dahulu,
sementara dalam pengajaran konsep, guru menyajikan contoh dan bukan contoh
terlebih dahulu dan siswa menemukan dan mendefinisikan konsep yang dimaksud
dengan menggunakan proses induktif.
Fase-fase final pengajaran konsep
mendorong interaksi siswa dan membutuhkan lingkungan belajar yang lebih
fleksibel dan berpusat pada anak. Seperti model instruksional lainnya, tugas
pasca-pengajaran guru adalah menyesuaikan program testingnya dengan tujuan
modelnya. Ketika mengevaluasi pemahaman siswa tentang sebuah konsep, penting
untuk meminta siswa untuk tidak hanya sekedar mendefinisikan konsepnya. Siswa
juga perlu diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan mereka tentang
atribut-atribut kritis konsep itu dan hubungannya dengan konsep-konsep lain.
(Resume
II)
BAGIAN
I
Model-Model
Pengajaran Interaktif yang Berpusat pada Siswa
Bab 1:
Cooperative Learning
Cooperative Learning adalah
model yang unik di antara model-model pengajaran lainnya karena menggunakan
struktur tujuan, tugas, dan reward yang berbeda untuk mendukung
pembelajaran siswa. Struktur tugas cooperative learning mengharuskan
siswa untuk mengerjakan bersama-sama berbagai tugas akademis dalam
kelompok-kelompok kecil. Struktur tujuan dan struktur reward-nya
membutuhkan pembelajaran yang inrdependen dan memberi pengakuan pada usaha
kelompok maupun usaha individual. Model cooperative learning diarahkan
pada tujuan-tujuan instruksional yang
menjangkau jauh di luar pembelajaran akademis, khusunya penerimaan antar
kelompok, ketrampilan sosial dan kelompok, dan perilaku kooperatif.
Sintaksis untuk model cooperative
learning lebih mengandalkan kerja kelompok kecil daripada pengajaran
seluruh kelas dan meliputi enam fase utama: mempresentasikan tujuan dan establishing
set; mempresentasikan informasi; mengorganisasikan siswa ke dalam tim-tim
belajar; membantu kerja tim dan pembelajaran; menguji materi belajar dan
memberikan pengajuan. Lingkungan belajar model ini membutuhkan struktur tugas
dan struktur reward yang kooperatif dan bukan kompetitif. Lingkungan
belajarnya ditandai oleh proses-proses demokratis yang siswanya menjalankan
peran aktif dan bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri.
Akar intelektual untuk cooperative
learning berasal dari tradisi pendidikan yang menekankan pemikiran dan
praktis demokratis: belajar secara aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati
pluralisme di masyarakat yang multikultural. Dasar empiris yang kuat mendukung
penggunaan cooperative learning untuk tujuan-tujuan pendidikan berikut:
perilaku kooperatif, pembelajaran akademis, hubungan rasial yang lebih baik,
dan sikap yang lebih baik terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Tugas perencanaan yang terkait
dengan cooperative learning kurang menekankan pada pengorganisasian isi
akademis dan lebih menekankan pada pengorganisasian siswa untuk kerja kelompok
kecil dan mengumpulkan berbagai materi belajar yang akan digunakan selama kerja
kelompok. Salah satu tugas perencanaan utamanya adalah memutuskan menentukan
pendekatan cooperative learning yang akan digunakan. Empat variasi model
dasar dapat digunakan: Student Team Achievement Divisions (STAD), Jigsaw,
Group Investigation (GA), dan pendekatan struktural.
Terlepas
dari pendekatan spesifiknya, pelajaran dengan cooperative learning memiliki
empat fitur esensial yang harus direncanakan dengan baik: bagaimana membentuk
tim-tim heterogen, bagaimana siswa nantinya bekerja dalam kelompok; bagaimana reward
akan didistribusikan, dan berapa waktu yang dibutuhkan. Melaksanakan
pelajaran dengan cooperative learning mengubah peran guru dari center-stage
performer (penampil di tengah panggung) menjadi koreografer kegiatan
kelompok kecil.
Kerja
kelompok kecil menyuguhkan berbagai tantangan manajemen khusus kepada guru.
Selama pelajaran dengan cooperative learning, guru harus membantu siswa
untuk melakukan transisi ke kelompok-kelompok kecil, membantu mereka mengelola
kerja kelompok, dan mengajarkan berbagai keterampilan sosial dan kelompok yang
penting.
Tugas
asesmen dan evaluasi, terutama evaluasi mengganti pendekatan-pendekatan
kompetitif tradisional yang dideskripsikan untuk model-model sebelumnya dengan reward
individual dan kelompok, bersama dengan bentuk-bentuk pengakuan baru. Newsletter
dan forum publik adalah dua alat yang digunakan guru untuk memberikan
pengakuan pada hasil kerja siswa yang dilaksanakan dalam pelajaran yang
menggunakan cooperative learning.
Bab 2:
Problem-Based Learning
Berbeda
dengan model-model lain yang penekanannya adalah pada mempresentasikan ide-ide
dan mendemonstrasikan keterampilan, dalam PBL guru menyodorkan situasi-situasi
bermasalah kepada siswa dan memerintahkan mereka untuk menyelidiki dan
menemukan sendiri solusinya. Tujuan instruksional PBL rangkap tiga: membantu
siswa mengembangkan keterampilan invesgatif dan keterampilan mengatasi masalah,
memberikan pengalaman peran-peran orang dewasa kepada siswa, dan memungkinkan
siswa untuk mendapatkan rasa percaya diri atas kemampuan-kemampuannya sendiri,
untuk berfikir dan menjadi pelajar yang self-regulated.
Aliran
umum atau sinteksis PBL terdiri atas lima fase utama: memberikan orientasi
kepada siswa tentang permasalahannya; mengorganisasikan siswa untuk meneliti; membantu
investigasi mandiri dan kelompok; mengembangkan dan mempresentasikan artefak
dan exhibit, dan menganalisis dan mengevaluasi pekerjaan. Lingkungan
belajar PBL ditandai oleh keterbukaan, keterlibatan aktif siswa, dan atmosfer
kebebasan intelektual.
PBL
memiliki akar intelektual dalam metode Sokratik pada zaman Yunani kuno, tetapi
telah diperluas oleh ide-ide yang berasal dari psikologi kognitif abad kedua
puluh. Dasar pengetahuan tentang PBL kaya dan kompleks. Beberapa studi yang
dilakukan selama beberapa tahun yang lalu memberikan bukti yang kuat tentang
efek instruksional model itu. Akan tetapi, studi-studi lainnya sampai pada
kesimpulan bahwa efek-efeknya masih kabur.
Selama
tiga dekade terakhir, perhatian cukup banyak diberikan kepada pendekatan-pendekatan
pengajaran yang dikenal dengan berbagai sebutan- descovery learning, inquiry
training, higher-level thinking- yang semuanya difokuskan pada membantu
siswa untuk menjadi pelajar yang otonom dan mandiri, yang mampu memahami
sendiri tentang makna berbagai macam hal.
Tugas
perencanaan utama yang terkait dengan PBL meliputi mengomunkasikan tujuan
dengan jelas, merancang situasi bermasalah yang menarik dan tepat, dan
persiapan logistik. Selama fase investigatif pelajaran berbasis masalah, guru
bertindak sebagai fasilitator dan membimbing investigasi siswa. Tugas-tugas
manajemen khusus yang terkait dengan PBL termasuk menangani lingkungan belajar
multitugas, melakukan penyesuaian dengan tingkat penyelesaian tugas yang
berbeda, menemukan cara untuk memantau pekerjaan siswa, dan mengelola berbagai
bahan, persediaan, dan logistik di luar kelas.
Tugas
asesmen dan evaluasi yang sesuai untuk PBL membutuhkan usaha untuk menemukan
prosedur-prosedur asesmen alternatif untuk mengukur pekerjaan siswa seperti performance
dan exhibit. Prosedur-prosedur ini mungkin termasuk asesmen performance,
asesmen autentik, dan portofolio. Guru yang menggunakan PBL menghadapi
banyak kendala seperti jadwal dan peraturan sekolah yang tidak fleksibel, yang
membatasi gerak siswa.
Bab 3: Diskusi
Kelas
Wacana
dan diskusi adalah unsur kunci untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa dan
menyatukan berbagai aspek kognitif dan sosial belajar. Ketika guru-guru
berpengalaman merujuk pada wacana kelas, mereka sering menggunakan label diskusi
untuk mendeskripsikan apa yang mereka lakukan. Diskusi kelas ditandai oleh
siswa dan guru yang membicarakan tentang materi-materi akademik dan oleh
siswa-sisa yang mau mempertontonkan proses berfikirnya di depan umum. Wacana
dapat dipikirkan sebagai eksternalisasi pemikiran dan memiliki makna kognitif
maupun sosial penting.
Tujuan instruksional utama pelajaran
diskusi adalah meningkatkan kemampuan berfikir siswa, meningkatkan keterlibatan
dan engagement dalam materi-materi akademik, dan mempelajari berbagai
keterampilan komunikasi dan keterampilan berfikir yang penting. Struktur
lingkuran belajar untuk pelajaran diskusi ditandai dengan proses-proses terbuka
dan peran aktif siswa.
Penelitian
selama bertahun-tahun telah mendeskripsikan bagaimana pola wacana dikebanyakan
kelas tidak memperlihatkan dialog yang efektif di antara siswa atau mendukung
banyak penemuan atau pemikiran tingkat tinggi. Ada dasar pengetahuan yang
substansial yang menginformasikan kepada guru tentang cara menciptakan sistem
wacana yang positif dan untuk melaksanakan diskusi yang produktif. Penelitian
juga memberikan berbagai pedoman tentang tipe-tipe pertanyaan dan menetapkan
kecepatan yang tepat bagi siswa untuk memberi mereka kesempatan untuk berfikir
dan merespons.
Kebanyakan
wacana kelas berjalan terlalu cepat. Guru dapat memperoleh wacana kelas yang
lebih baik dengan mengurangi kecepatan dan memberikan kesempatan kepada dirinya
sendiri maupun siswa-siswanya untuk berfikir sebelum merespons.
Salah satu tugas perencanaan penting
untuk pelajaran diskusi adalah memutuskan pendekatan yang akan digunakan. Ada
beberapa jenis diskusi. Pendekatan-pendekatan utamanya termasuk menggunakan
diskusi bersama model pengajaran lain, diskusi resitasi, diskusi penemuan atau
penyelidikan, dan diskusi untuk mengklarifikasikan nilai-nilai dan berbagi
pengalaman pribadi.
Tugas
perencanaan lain yang penting untuk dipertimbangkan guru termasuk menentukan
maksud diskusi; mengetahui pengetahuan dan keterampilan wacana yang sebelumnya
sudah dimiliki siswa; membuat rencana untuk mendekati diskusinya; dan
menentukan tipe pertanyaan yang akan diajukan. Menempatkan siswa dalam penataan
tempat duduk berbentuk lingkaran atau bentuk-U memfasilitasi diskusi kelas.
Tugas
utama guru ketika mereka melaksanakan diskusi adalah memfokuskan diskusinya;
menjaga agar diskusi itu tidak keluar jalur; mencatat jalannya dikusi;
mendengarkan ide-ide siswa; dan memberikan wait-time yang tepat. Guru seharusnya merespons ide-ide
siswa dengan bangga. Mereka seharusnya membantu siswa memperluas ide-idenya
dengan meminta klarifikasi, membuat mereka mempertimbangkan ide-ide alternatif,
dan memberi label pada proses-proses berfikir siswa.
Guru
harus sadar akan perbedaan gender dalam wacana maupun perbedaan yang berasal
dari ras dan golongan. Agar efektif, guru harus mengadaptasikan diskusi untuk
memenuhi pola-pola bahasa siswa mereka yang beragam.
Secara umum, pola diskusi dan wacana
kelas dapat diperbaiki bila guru mengurangi kecepatan dan menggunakan berbagai
metode untuk memperluas partisipasi dan bila mereka mengajari siswa untuk
berusaha saling memahami dan menghormati ide dan perasaan orang lain.
Mengajarkan empat keterampilan komunikasi interpersonal kepada siswa
(parafrasa, deskripsi perilaku, deskripsi perasaan, dan memeriksa kesan) dapat
meningkatkan kualitas wacana dan sikap saling menghormati di kalangan siswa.
Alat-alat
visual spesifik seperti think-pair-share cuing device dan thinking
matrix dapat membantu siswa belajar tentang keterampilan wacana dan
keterampilan berfikir. Agar siswa menjadi efektif dalam sistem wacana selama
diskusi tertentu, guru perlu mengajarkan keterampilan wacana kepada siswa
dengan sama langsungnya seperti mengajarkan isi akademis dan keterampilan
akademis lainnya. Model pengajaran langsung dapat digunakan untuk mengajarkan
keterampilan-keterampilan penting ini.
Tugas
asesmen dan evaluasi yang sesuai untuk diskusi kelas berupa menemukan cara
untuk menindaklanjuti diskusi dan memberi nilai pada kontribusi siswa dalam
diskusi. Guru menggunakan dua cara untuk menilai diskusi: memberi poin bonus
kepada siswa yang secara konsisten tampak siap dan yang memberikan kontribusi
dan memberi nilai pada tugas menulis reflektif yang didasarkan pada isi
diskusi.
Bab 4: Menghubungkan Berbagai Model
dan Mendiferensiasikan Pengajaran
Memerhatikan
kebutuhan seluruh siswa adalah salah satu tantangan paling penting dan sulit
yang dihadapi guru-guru dewasa ini. Selama lebih dari satu abad telah
diingatkan untuk memerhatikan kebutuhan individual siswa. Tetapi, mereka juga
sekaligus diharapkan untuk mengajar dengan kurikulum yang dipreskripsikan bagi
dua puluh atau tiga puluh siswa di kelas-kelas yang dikelompokkan menurut umur.
Repertoar mengacu pada jumlah
model dan strategi yang dimiliki guru yang mereka kuasai panggunaannya. Repertoar
yang luas memungkinkan untuk menggunakan multimodel, untuk
mengadaptasikan pengajaran dan membuat pilihan pengajaran yang bijaksana untuk
memastikan berbagai tipe belajar siswa. Sementara tujuan pelajaran tertentu
adalah salah satu faktor untuk memutuskan moel dan strategi mana yang akan
digunakan, sifat siswa adalah salah satu faktor lain yang sangat penting.
Perlunya variasi adalah faktor ketiga yang membantu guru memutuskan penggunaan multimodel
selama sebuah pelajaran atau satu unit pekerjaan.
Teori perkembangan dan kemampuan
manusia membantu guru untuk memahami rentang kesiapan dan kemampuan yang
ditemukan di semua kelas. Teoretisi perkembangan seperti Peaget dan Vygotsky memberikan
perspektif tentang bagaimana anak-anak berkembang dan tumbuh dan
perkembangannya berjalan dengan tingkat yang berbeda. Sternberg dan Gardner
mengatakan bahwa intelegensi bersifat majemuk, bukan tunggal. Sternberg
mendefinisikan tiga tipe intelegensi. Gardner mendeskripsikan delapan bentuk
dasar inteligensi.
Kelas yang dideferensiasikan
ditandai oleh fitur-fitur yang guru memfokuskan pada hal-hal yang esensial;
memerhatikan perbedaan-perbedaan siswa; melihat asesmen dan pengajaran sebagai
dua hal yang tidak dapat dipisahkan; melakukan modifikasi pada isi, proses, dan
produk; dan memberikan pekerjakan yang terhormati kepada seluruh siswa, yang
sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka.
Strategi-strategi
yang mendukung diferensiasi pengajaran termasuk diferensiasi kurikulum, cooperative
learning, problem-based learning, pemadatan kurikulum, tiered
activities, dan independent study dan contracting. Di
sebagian besar abad kedua puluh, mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan
adalah cara utama untuk mengurangi rentang kemampuan yang ditemukan di
kelas-kelas.
Selama
tiga dekade terakhir, penelitian menunjukkan efek-efek negatif ability
grouping dan telah membuat banyak pendidik pengeksplorasi praktik-praktik
alternatif, seperti within-class flexible grouping. Dasar pengetahuan
yang kecil mulai menunjukkan efek-efek positif flekxible grouping.
Kelas
yang didiferensiasikan, seperti kebanyakan situasi yang berpusat-pada-siswa,
memiliki tuntutan khusus pada sistem manajemen guru. Kelas semacam itu
membutuhkan sistem untuk menangani siswa ketika mereka mengerjakan berbagai macam
tugas belajar dan cara untuk menangani tingkat penyelesaian tugas yang
berbeda-beda. Memantau dan mengelola pekerjaan siswa di kelas-kelas yang
siswanya mengerjakan berbagai macam tugas belajar, juga lebih kompleks.
Asesmen
dan pengajaran harus tidak dapat dipisahkan dan diintegrasikan sepenuhnya agar
pengajaran yang terdiferensiasi efektif. Pendekatan-pendekatan asesmen dan grading
tradisional sering kali dapat menghambat usaha untuk mengadaptasikan
pengajaran dan memenuhi kebutuhan siswa-siswa tertentu; penekanannya mestinya
pada pertumbuhan siswa dan bukan pada perbandingan-perbandingan komparatif.
BAGIAN
2
Aspek-Aspek
Organisasional Pengajaran
Bab 5:
Kepemimpinan dan Kolaborasi Sekolah
Sekolah
adalah organisasi sosial yang merupakan tempat orang-orang dewasa bekerja dan
tempat siswa datang untuk belajar. Orang-orang di sekolah tidak bertindak
dengan cara-cara yang sepenuhnya bebas dan terlepas satu sama lain, tetapi
dengan cara yan sedikit banyak interdependen dan dapat diprediksi. Sekolah memiliki
sejarah dan budayanya masing-masing (tone, etos), dengan norma-norma dan
peran-peran yang mempengaruhi tujuan dan proses sekolah dan bagaimana orang
bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan.
Meskipun
sekolah, seperti organisasi-organisasi lainnya, ditandai oleh struktur tujuan
dan struktur kontrol tertentu, tetapi sekolah juga memiliki fitur-fitur khusus,
seperti tujuan yang ambigu, keikutsertaan wajib (bagi siswa), visibilitas
politik, sumber daya yang terbatas, dan perasaan sebagai sebuah komunitas.
Dua
norma penting yang mengatur budaya mengajar dan perilaku di sekolah adalah autonomy
norm dan hands-off norm. Autonomy norm memungkinkan guru untuk
melakukan apa saja dalam lingkup ruang kelasnya. Hands-off norm memberi
sanksi kepada guru yang mencoba mencampuri metode atau proses pengajaran guru
lain. Peran juga menentukan bagaimana guru mengerjakan tugasnya. Beberapa aspek
peran guru bersifat kontradiktif. Sebagai contoh, kebutuhan untuk memberikan
perhatian individual kepada siswa dalam setting kelompok dan kebutuhan
untuk menjaga jarak sosial dengan siswa.
Penelitian
tentang kehidupan pekerjaan guru mendokumentasikan bahwa guru melaksanakan
banyak fungsi organisasional selain bekerja secara langsung dengan siswa dan
bahwa tuntutan waktu terhadap guru cukup ekstensif. Ada dasar pengetahuan yang
cukup kuat, yang membantu menjelaskan mengapa sebagian sekolah lebih efektif
dibanding yang lainnya. Beberapa aspek penelitian ini masih kontroversial.
Penelitian
tentang sekolah mengilustrasikan bahwa meskipun performa mengajar di
masing-masing kelas sangat penting, bagaimana kepala sekolah, guru, orangtua
siswa, dan siswa siswa, dan siswa siswa, dan siswa siswa, dan siswa siswa, dan
siswa siswa, dan siswa siswa, dan siswa bersama-sama menetapkan tujuan, ekspektasi,
dan prosedur bersama dan bagaimana guru memikul tanggung jawab kolektif atas
pembelajaran siswa, memiliki dampak substansial pada apa yang dipelajari siswa.
Sekolah-sekolah
yang lebih efektif memiliki proses dan prosedur yang ditandai dengan tujuan yang
jelas, ekspektasi tinggi, pervasive caring, kepemimpinan yang kuat,
dukungan masyarakat, waktu pembelajaran akademis yang tinggi, sering memantau
kemajuan siswa, kurikulum yang koheren, dan variasi metode-metode yang
digunakan oleh guru-gurunya.
Guru
memiliki kontribusi pada sekolah efektif dengan berhasil bekerja sama dengan
baik dengan rekan-rekan sejawatnya; bekerja bersama para pemimpin sekolah,
termasuk kepala sekolah; bekerja bersama orangtua, dan memimpin untuk perbaikan
sekolah. Membangun hubungan kerja yang baik dengan rekan sejawat sangat penting
dan dapat ditingkatkan dengan mengobservasi guru-guru lain di sekolah, secara
sukarela menyediakan diri untuk menjadi bagian komite atau satuan tugas
tertentu, dan mendiskusikan berbagai isu pendidikan dengan rekan-rekan sejawat.
Guru
membangun hubungan baik dengan kepala sekolah dan personel kepemimpinan lain
dengan menemui mereka secara reguler, selalu memberikan informasi mutakhir
tentang apa yang mereka kerjakan di kelas, daan berpartisipasi di berbagai
kegiatan tingkat sekolah. Orang tua siswa akan menjadi mitra di kelas bila
mereka selalu diberi informasi mutakhir tentang apa yang terjadi, membuat
mereka merasa disambut baik di sekolah dan di berbagai pertemuan, dan meminta
bantuan mereka dalam pendidikan anaknya baik di rumah maupun di sekolah.
Keterlibatan orangtua dapat memiliki efek positif yang kuat pada seberapa baik
prestasi siswa di sekolah.
Membantu
memperbaiki kelas dan sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam
pekerjaan guru. Perbaikan dibutuhkan karena sekolah, di banyak kasus, tidak
dapat mengikuti kebutuhan kaum muda masa kini dan tidak dapat mewujudkan
ekspektasi orang-orang terhadap pendidikan. Guru yang memilih untuk terlibat
dalam upaya perbaikan sekolah dapat melakukannya dengan menyumbangkan pikiran
dan mengikuti informasi terbaru tentang berbagai prakarsa perubahan yang
diusulkan oleh pihak lain dan dengan membantu menciptakan dan memimpin untuk
pryek-proyek perbaikan.
C.
Kesimpulan
Bagian
1 mengintroduksikan buku ini, mengeksplorasikan makna pengajaran efektif, dan
mempertimbangkan berbagai proses dan tahapan yang dilalui para guru pemula
untuk dapat menjadi guru yang mumpuni. Bagian ini juga menggarisbesarkan
tema-tema utama buku ini maupun konteks sosial kontemporer pengajaran, konteks
yang ditandai dengan siswa yang sangat beragam dan tuntutan masyarakat bahwa
guru membantu semua siswa untuk menyadari potensi belajarnya.
Bagian
2, 3(Buku Satu), dan 1, 2 (Buku Dua) yang merupakan jantung buku ini,
diorganisasikan di seputar konsep-konsep tentang apa yang dilakukan guru.
Bagian-bagian ini berasumsi bahwa semua guru memiliki tiga tanggung jawab
penting, yaitu:
1)
Mereka memimpin sekelompok siswa-aspek kepemimpinan
mengajar;
2)
Mereka memberikan pengajaran langsung, tatap-muka, bagi
siswa-aspek interaktif mengajar;
3)
Mereka bekerja bersama kolega dan para orangtua untuk
melaksanakan aspek organisasional mengajar.
Bagian
3 (Buku Satu) Bab 7-9 mendeskripsikan tentang pendekatan-pendekatan yang lebih
tradisional dan berpusat pada guru, sementara Bagian 1 (Buku Dua) Bab 1-4
difokuskan secara spesifik pada pendekatan-pendekatan kontemporer yang berpusat
pada siswa dan pada berbagai cara memanfaatkan berbagai pendekatan untuk
memenuhi tujuan-tujuan intruksional.
BAB
III
ANALISA
BUKU
A.
Kelebihan Buku
Dalam buku Leaning to Teach banyak terdapat kelebihan-kelebihannya,
diantaranya sebagai berikut:
1)
Menekankan tentang betapa pentingnya penelitian dan dasar
pengetahuan bagi pengajar dan belajar, menunjukkan bagaimana ide-ide dari
penelitian dapat diterapkan pada berbagai masalah yang dihadapi setiap hari
oleh guru.
2)
Menyuguhkan teori dan dasar pemikiran yang mendasari dan
mendukung berbagai prinsip dan praktik yang spesifik.
3)
Masing-masing bab berisi boks “ Ringkasan Penelitian”
dari sebuah studi penting yang terkait dengan topik bab yang bersangkutan.
4)
“Resource Handbook” di akhir teks berisi pedoman ringkas
untuk membaca dan memahami literatur penelitian yang dapat diperoleh dalam
jurnal-jurnal profesional.
5)
Isi di dalamnya diorganisasikan untuk membantu menjawab
banyak permasalahan sehari-hari yang dihadapi guru.
B.
Kelemahan Buku
Meskipun buku Learning to Teach ini banyak memiliki kelebihan, namun
terdapat pula kekurangan, diantaranya sebagai berikut:
1)
Setiap babnya banyak menggunakan kata-kata yang bersifat
ilmiah dan jarang digunakan, sehingga tidak dapat dicerna oleh semua kalangan.
2)
Penjelasan tiap bab-babnya terlalu luas dan panjang
lebar. Hal ini menyebabkan pembaca bingung karena benyak penjelasannya.
3)
Isi tiap pembahasannya lebih banyak menjelaskan secara
teoritis, meskipun banyak pula menceritakan pengalaman-pengalaman terdahulu
secara teoritis maupun praktis.
BAB
IV
PENUTUP
Di
dalam penyusunan resuman buku Learning to Teach ini, penulis menyadari
bahwa resuman yang penulis susun ini tidak seratus persen dari usaha penulis,
tetapi juga berkat dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat:
1.
Bapak, Ghufron Dimyati, M. S. I selaku dosen pembimbing
mata kuliah Strategi Belajar Mengajar yang
telah sudi meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan, pengajaran dan pengarahan selama penyusunan resuman buku Learning
to Teach ini.
2.
Bapak dan Ibu serta segenap keluarga yang turut memberikan dorongan
baik moral maupun spiritual.
3.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang
telah membantu langsung maupun tidak langsung hingga resuman dapat terselesaikan.
Semoga
amal kebaikan beliau-beliau yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi
ini diterima oleh Allah SWT dan mendapat imbalan yang setimpal, Aamiin.
Akhirnya
do’a yang dapat penulis panjatkan, harapan penulis semoga resuman buku Learning
to Teach ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan para pembaca
pada umumnya. Sehingga dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada
calon-calon guru agar menjadi guru yang berpengetahuan, berpengalaman serta
profesional dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya.
izin save ya mba
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus